oleh

Bayi Di Ciamis Kritis Usai Diimunisasi

Buletin Indonesia News.com
CIAMIS, Jabar —
Seorang bayi bernisial ZA yang masih berumur 6 (enam) bulan mendadak kritis usai di imunisasi di Posyandu Dusun Bangunsirna Desa Sukamaju Kecamatan Baregbeg. Mirisnya, efek yang terjadi pasca imunisasi tersebut harus menjadi tanggungan orangtua Bayi saat dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Ciamis.

Menurut pengakuan Jafar (40),  orangtua Bayi bahwa usai anaknya diimunisasi DPT dan Polio pada Senin (20/09/2021) lalu di posyandu Bangunsirna oleh bidan desa, kurang lebih 3 jam setelah itu menderita demam tinggi, muntah dan BAB tidak berhenti serta ada bengkak di paha kiri bekas imunisasi, padahal sebelum diimunisasi anaknya dalam keadaan sehat.
“Anak saya sebelum diimunisasi sehat, ceria tapi setelah diimunisasi anak saya menderita demam, muntah-muntah, bab terus menerus dan ada bengkak di paha kirinya,” kata Jafar kepada Wartawan.

Karena  kondisi anaknya seperti itu, Jafar dan istrinya Ria (24) kemudian konsultasi dengan Bidan desa yang melakukan tindakan imunisasi kepada ZA namun hanya diberikan obat Parasetamol penurun panas.

Karena kondisi ZA tak kunjung membaik setelah diberikan obat Parasetamol, kedua orangtuanya ke Bidan lain yakni Bidan Yuli. Setelah konsultasi, oleh Bidan Yuli kemudian menyarankan agar ZA segera dibawa ke Dokter untuk diperiksa.
Jafar menjelaskan, pada Kamis (23/09/2021) pagi, pihaknya membawa anaknya ke Rumah Sakit Permata Bunda (RSPB) Ciamis atas saran dari Bidan Yuli dan dirawat inap. Lanjut Jafar, waktu itu ZA ditangani dr. H. Fouad Hakiem, Sp.A, dan pulang paksa hari Jumat (24/09/2021) karena khawatir tak sanggup bayar biaya pengobatan sebab tidak memiliki kartu BPJS ataupun Jaminan Kesehatan dari Pemerintah.

Baca Juga : KAPUSKESMAS BAREGBEG BERDALIH SUDAH SESUAI SOP

“Setelah pulang dari RSPB, Kami membawa ZA ke Jatinagara Kecamatan Rajadesa untuk diberikan pengobatan kampung karena berat badannya semakin menurun. Waktu diimunisasi saja beratnya 8 Kg dan pasca imunisasi berat badannya menjadi 6,7 Kg ketika ditimbang lagi di RSPB” ujar Jafar kepada Wartawan.

Lebih jauh Fajar menambahkan, dirinya semakin khawatir ketika dr. H. Fouad Hakiem, Sp.A. yang menangani anaknya di Rumah Sakit, sempat mengatakan bahwa kondisi anaknya ini disebabkan adanya bakteri atau akibat dosis tinggi saat imunisasi. “Saya kaget mendengar itu dan disisi lain saya memikirkan biaya, dimana apabila kami tidak sanggup akan berdampak juga pada proses penyembuhan anak kami. Makanya kami memutuskan untuk membawa pulang untuk menjalani penyembuhan secara tradisional. Baru satu hari aja dirumah sakit kami sudah bayar Rp. 1 juta lebih” kata Jafar, Senin (04/10/21).

Jafar mengaku kecewa tidak adanya tanggungjawab pihak terkait atas dampak imunisasi terhadap anaknya ini. Karena saat konsultasi saja hanya diberikan obat parasetamol, tidak diberikan penindakan selanjutnya dan membantu biaya pengobatan anaknya. (Nank Irawan).

News Feed