oleh

Bupati Herdiat Ajak Pemerintah dan Masyarakat Lestarikan Budaya Warisan Leluhur

Buletin Indonesia News.com

CIAMIS, Jabar — Nyangku merupakan salah satu budaya warisan para leluhur yang harus dirawat dan dilestarikan, hal itu dikatakan Bupati Ciamis, DR. H. Herdiat Sunarya saat menghadiri acara adat Nyangku di Nusa Gede Panjalu, Senin (01/11/2021).

“Mari bersama- sama antara pemerintah dan masyarakat untuk memelihara, merawat dan melestarikan budaya Warisan leluhur kita,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut Bupati menyerahkan Surat Keputusan (SK) Hindia Belanda tentang Cagar Alam Nusa Gede Situ Lengkong Panjalu tahun 1919 kepada ketua Yayasan Borosngora, juga meninjau kegiatan Gebyar Vaksinasi yang dilaksanakan di sekitar Situ Lengkong Panjalu.

Acara Nyangku tersebut duhadiri juga oleh, Wakil Bupati Ciamis Yana D Putra, Para Kepala SKPD terkait, Camat Panjalu, Kepala Desa, serta Tokoh Budaya, Tokoh Agama dan masyarakat.

Dijelaskan Bupati, Nyangku merupakan tradisi tahunan yang digelar setiap bulan Robiul Awal atau Maulud ini juga sekaligus sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Adapun rangkaian kegiatan tradisi “Nyangku” tersebut dilaksanakan dengan membersihkan benda pusaka peninggalan Raja Panjalu setelah melakukan ziarah ke makam Prabu Hariang Kencana putra dari Hariang Borosngora.

Diungkapkan Bupati, Pemerintah Pusat melalui Kementrian Kebudayaan RI, telah menetapkan dua kebudayaan Ciamis sebagai Warisan Budaya Ta Benda (WBTB) yaitu Upacara adat Merlawu dan upacara adat Nyuguh.

“Alhamdulillah, Upacara adat Merlawu dan upacara adat Nyuguh sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Ta Benda oleh Kementrian Kebudayaan RI sebulan yang lalu,” ungkapnya.

Dijelaskan Bupati, saat ini terdapat tujuh kebudayaan Ciamis yang diakui oleh pemerintah pusat yaitu Ronggeng gunung, Bebegig, Nyangku, Ngikis, Misalin, Merlawu dan Nyuguh. Untuk itu pihaknya mengajak seluruh elemen yang ada di Kabupaten Ciamis untuk merawat, memelihara dan melestarikan tradisi budaya yang ada.

“Dengan kita merawat, menjaga dan melestarikan itu menandakan kecintaan terhadap leluhur yang telah mewariskan budayanya kepada kita semua, selain untuk berziarah, tradisi Nyangku ini juga diharapkan dapat menarik wisatawan lokal maupun interlokal untuk datang ke Situ Lengkong Panjalu,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Boros Ngora Rd. Pandu Ghalib Prasasti Cakradinata mengatakan rangkaian kegiatan Nyangku dan Maulid tahun ini diselenggarakan secara sederhana mengingat situasi dan kondisi masih dalam keadaan pandemi Covid 19. Menurutnya, panjasmasan atau pencucian benda pusaka merupakan representasi peninggalan dari Prabu Boros Ngora.

“Nyangku sebagai produk budaya warisan leluhur Panjalu perlu dilestarikan dalam rangka mupusti bukan migusti, sehingga prilaku yang menuju kepada syirik itu harus dihindari,” pungkasnya. (**Nank Irawan)

News Feed