Dies Natalis HMI ke-74 : Apakah Ada Keadilan Ekonomi di Tengah Negara yang Resesi?

Dies Natalis HMI ke-74 : Apakah Ada Keadilan Ekonomi di Tengah Negara yang Resesi?

Buletin Indonesia News
Kader HMI Komisariat Tarbiyah Cabang Kabupaten Bandung Indonesia kali ini dibuat kalang kabut dengan munculnya Pandemi di awal tahun 2020 lalu yang bahkan masih eksis sampai sekarang, dirasa makin kacau dimana-mana seperti efek domino dari masalah kesehatan kemasalah ekonomi, pendidikan, politik, dll yang sepertinya membuat seluruh elemen Negara ini depresi.
Pada tanggal 14 Februari 2021, Worldometers merilis data kasus virus corona di dunia sudah menyentuh angka 109.068.797 (seratus sembilan juta enam puluh delapan ribu tujuh ratus sembilan puluh tujuh). Di Indonesia sendiri Satgas Covid-19 melaporkan bahwa jumlah kasus corona sudah mencapai 1.223.930 kasus dengan uraian 33. 367 meninggal dunia dan 1.032.065 sembuh sehingga berdasarkan data tersebut, 15 Februari 2021 Indonesia berada di urutan ke 19 kasus Corona terbanyak di dunia.
Selain pada sektor kesehatan, sektor ekonomi juga menjadi salah satu fokus yang harus segera ditangani dengan bijak oleh Pemerintah agar Negara tidak lumpuh ditengah pandemi. Mungkin kita sudah sering mendengar kata “resesi”, apalagi semenjak Covid-19 ini muncul di Indonesia.

Apa itu Resesi ?
Pada hakikatnya resesi itu diartikan sebagai pelemahan atau penurunan, jadi resesi merupakan penurunan atau kemunduran kegiatan ekonomi secara signifikan yang dilihat dari nilai Produk Domestic Bruto (PDB) (jumlah atas suatu produksi barang dan jasa yang mampu dihasilkan suatu Negara. PDB ini berkaitan erat dengan konsumsi rumah tangga nasional, konsumsi Negara/belanja negara, investasi dan perdagangan internasional_Red) yang terjadi selama 2 kuartal berturut-turut. Sebetulnya dalam suatu Negara, resesi ini tidak bisa dihindari, yang bisa dilakukan adalah mengurangi dampak yang bisa terjadi.
Amerika Serikat saja sudah mengalami puluhan kali resesi. Sejak tahun 1854 negara adidaya ini sudah mengalami 33 kali resesi. Prediksi bahwa Indonesia akan mengalami resesi sudah banyak bermunculan saat pemerintah dinilai gagal menangani Covid-19 ini. Nyatanya benar, Indonesia resmi mengalami resesi pada bulan November 2020 kemarin. Resesi ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti turunnya daya beli masyarakat dan meningkatnya pengangguran. Kemudian, yang menjadi PR ialah bagaimana keadilan ekonomi bisa tetap dicapai ditengah resesi ini.
Islam mengajarkan bahwa keadilan ekonomi merupakan konsekuensi logis dari konsep persaudaraan Islam. Paling tidak, ada 2 bentuk keadilan ekonomi yaitu keadilan distribusi pendapatan dan egalitarian yaitu menghendaki tiap-tiap individu memiliki peluang akses ekonomi yang sama. Pakar ekonomi Islam yakni Syafi’i Antonio pernah mengatakan bahwa kesenjangan pendapatan dalam masyarakat itu berlawanan dengan komitmen islam terhadap persaudaraan dan keadilan sosial.

NDP sebagai ideologi HMI membahas secara khusus tentang keadilanekonomi, mengingat NDP ialah kumpulan nilai-nilai al-Qur’an maka berbicara solusi atau upaya dalam mencapai keadilan ekonomi tertera di dalam NDP Bab VI tentang “Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi”. Dijelaskan bahwa, dalam masyarakat yang tidak adil, kekayaan dan kemiskinan akan terjadi dalam kualitas dan proprosi yang tidakwajar.

Maka hadirnya kewajiban zakat dalam Islam menjadi sebuah solusi dalam menyelesaikan persoalan kesenjangan antara si kaya dan si miskin ini. Selain sebagai mani festasi ketaatan yang berdimensi teologis namun zakat juga sebagai bentuk komitmen sosial muslim terhadap muslim lainnya.
Sebagai rukun Islam yang keempat, zakat yang memiliki fungsi secara moral, sosial dan ekonomi ini kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk yang konkrit, yakni dengan menjadikan zakat sebagai kebijaksanaan ekonomi untuk memberdayakan rakyat yang tidak mampu. Diantaranya ialah melalui lembaga-lembaga amil zakat yang ada di Indonesia. Melalui lembaga-lembaga ini diharapkan tidak hanya disalurkan kepada hal yang konsumtif saja, tapi juga bisa disalurkan dalam bentuk pengoptimalisasian kegiatan ekonomi masyarakat menengah ke bawah dalam menstabilkan pendapatan masyarakat baik dengan suntikan-suntikan dana ataupun melalui penyelenggaraan beasiswa yang bersifat peningkatan sumber daya manusia.
Ideologi yang dimiliki oleh HMI sudah sangat luar biasa, membahas mulai dari hubungan manusia secara vertikal sampai kepada hubungan manusia secara horizontal. Maka, spirit perjuangan harus selalu bernyawa di dalam diri seorang kader HMI.74 tahun sudah HMI hadir menjawab tantangan-tantangan zaman. Dari fase mempertahankan keislaman dan keindonesiaan dari kaum penjajah yang tampak di pelupuk mata, hingga saat ini, zaman dimana melawan “penjajah” yang bahkan tak terlihat.

Dengan slogan hari ini “Mengokohkan komitmen keislaman dan keindonesiaan” Menandakan HMI bukan hanya bertujuan untuk kepentingan umat semata namun juga untuk kepentingan rakyat.Dengan melepaskan segala kepentingan individu, dan tetap berkomitmen mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Semoga di usia Himpunan yang ke 74 Tahun ini, menjadikan HMI sebagai organisasi yang dinamis serta progresif dan tetap menjaga komitmen kaderisasi bagi para kadernya.

Yakin Usaha Sampai!

*( Artikel Ini Digagas Oleh : Annisa Siti Nurhaliza)

BULETIN INDONESIA NEWS