oleh

Diimingi Tawaran Pekerjaan, Mahasiswa IPB Malah Menjadi Korban Pinjol!

Buletin Indonesia News.com

JAKARTA, — Polresta Bogor Kota telah mengungkap sebanyak 311 mahasiswa IPB (Institut Pertanian Bogor) dan masyarakat yang menjadi korban dari Pinjol (Pinjaman Online).

AKBP Ferdy Irawan Wakapolresta Bogor mengatakan, bahwa pihaknya telah menerima dua laporan polisi dan sebanyak 29 aduan mengenai kasus Pinjol  ini.

“Total uang yang sudah mungkin dugaan para korban yang tertipu, sebesar Rp 2,1 miliar dari 311 orang korban ini,” kata AKBP Ferdy kepada wartawan, hari Selasa (15/11/2022).

AKBP Ferdy menyampaikan, ada satu terlapor yang berinisial SAN di dalam kasus Pinjol ini. Terlapor SAN dilaporkan karena atas dugaan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan dan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan. AKBP Ferdy menjelaskan, bahwa ratusan korban yang terlilit hutang Pinjol berawal dari adanya tawaran pekerjaan dan diimingi bagi hasil sebesar 10%.

“Kemudian modusnya, jadi sebenarnya kenapa terkai dengan pinjol? Ini sebenarnya kerja sama antara korban dengan terlapor, tidak terkait dengan pinjol awalnya. Terlapor menawarkan kerjasama secara online dengan cara bagi hasil dijanjikan 10 persen,” ujar AKBP Ferdy.

Sayang, keuntungan yang akan diberikan harus dengan syarat. Bahwa korban harus mengajukan pinjaman online, terdapat lima aplikasi Pinjol yang telah dikantongi oleh pihak kepolisian.

Para korban tidak mendapat keuntungan yang sesuai dengan perjanjian, meskipun telah mengajukan pinjaman online. Para korban kini justru harus berhadapan dengan tagihan Pinjol sampai dikejar oleh Debt Collector.

“Dan saat sekarang, para korban ini punya kewajiban ataupun ditagih oleh aplikasi pinjaman online untuk membayarkan kewajiban mereka yang sudah diajukan beberapa saat sebelumnya. Jadi, kronologisnya seperti itu,” jelas AKBP Ferdy.

AKBP Ferdy mengatakan, kini terlapor SAN sedang dalam pengejaran. Namun, dia meyakinkan bahwa terlapor SAN bukanlah mahasiswa dari IPB.

“Kalau kita bicara keterangan dari beberapa korban, ada beberapa mahasiswa yang bertemu secara langsung kepada terlapor ini. Kemudian,itu menyebar dari mulut ke mulut. Sehingga, disambungkan langsung kepada terlapor dan mereka komunikasi. Ada yang ketemu secara langsung dan ada yang melalui chat WA,” kata AKBP Ferdy.