Dinas LH Tuding Warga Buang Lari Penyebab Menumpuknya Sampah di TPS Terminal

Dinas LH Tuding Warga Buang Lari Penyebab Menumpuknya Sampah di TPS Terminal

BINews

Banjar, – Sampah merupakan salah satu masalah klasik yang terjadi setiap saat dilingkungan sekitar kita. Pembuangan sampah yang sembarangan tempat bahkan sering menuai polemik dilingkungan.

Kota Banjar sendiri merupakan kota kecil yang sudah berkali-kali meraih penghargaan adipura. Artinya, sebuah prestasi yang memcerminkan budaya kebersihan masyarakat dan pengelolaan sampah yang baik oleh intansi terkait. Produksi sampah yang tak pernah berhenti setiap harinya membuat pemerintah kota Banjar melalui dinas Lingkungan Hidup perlu menyiasatinya agar tidak terjadi penumpukan yang dapat mengakibatkan sarang penyakit.

Yana Bachyan, ketua FPRB
kota Banjar

Sayangnya, pemandangan tumpukan sampah di TPS Terminal pada libur panjang pekan lalu rupanya menuai protes dari masyarakat terutama bagi warga yang berada disekitar TPS tersebut berada.

Hal tersebut diutarakan Yana Bachyan, Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana kota Banjar yang mengeluhkan bau menyengat dari tumpukan sampah di TPS terminal.

“setiap hari saya selalu berkumpul di BPBD dan merasa sangat terganggu dengan penumpukan sampah seperti itu karena menimbulkan polusi yang berpotensi terhadap penyakit. Seharusnya, jangan jadikan alasan libur cuti bersama sebagai dalih dari pembiaran penumpukan sampah tersebut, karena produksi sampah tidak mengenal libur, tapi carilah solusi agar tidak terjadi penumpukan sampah dan jadi biang penyakit,” cetusnya.

Hal senada dikatakan Johan, aktivis pemerhati lingkungan yang selalu aktif mengkampanyekan gerakan kebersihan dikota Banjar.

Dikatakannya, bahwa penumpukan sampah diakibatkan dari digemboknya tempat pembuangan sampah di TPS selama cuti bersama sehingga masyarakat membuang sampah secara asal-asalan disekitar TPS dan mengakibatkan penumpukan.

“Sangat disayangkan strategi pengelolaan sampah dimasa cuti bersama tidak dilakukan sehingga terjadi penumpukan yang mengeluarkan bau menyengat, padahal walaupun cuti bersama, di atur pengeloaan sampahnya secara bergilir oleh petugas agar tidak terjadi penumpukan,” tandasnya.

Lebih lanjut Johan mengemukakan bahwa produksi sampah dari masyarakat tidak pernah mengenal libur sehingga harus ada solusi dari pengelola sampah apabila menghadapi masa libur panjang.

“hari ini memang sudah dibersihkan sejak menumpuk beberapa hari selama libur panjang tapi kedepannya diharapkan agar pemerintah memiliki strategi dan solusi agar tidak terjadi penumpukan sampah seperti ini lagi,” tegasnya.

Menanggapi keluhan tersebut, kasie pengelolaan sampah dinas kebersihan, pertamanan dan lingkungan hidup kota Banjar, Ludi mengatakan bahwa pihaknya sudah langsung mengatasi permasalah sampah tersebut dan mengangkutnya.

Menurutnya, penggembokan tempat pembuangan sampah di TPS Terminal adalah upaya penyelamatan asset dimasa libur panjang sekaligus untuk meneliti seberapa banyak warga non pelanggan sampah yang biasa melakukan buang lari.

“cuti bersama adalah hak kami dan untuk menyelamatkan asset, ya kami kunci selama masa libur panjang. Dengan begitu, kita bisa tahu seberapa banyak sampah yang menumpuk di TPS dari warga pelaku buang lari,” tegasnya.

Ludi didampingi kabid Pengelolaan sampah terang-terangan kecewa dengan stigma negatif dari keluhan penumpukan sampah tersebut. Menurutnya, persoalan sampah bukan masalah pemerintah saja, namun perlu kerjasama dari masyarakat dan semua pihak dalam menyiasati penumpukan sampah.

“sebelum cuti bersama, kami sudah berikan sosialisasi kepada pelanggan bahwa selama cuti bersama tidak akan ada pengangkutan sampah, dan kalaupun tetap ada yang membuang sampah di TPS, saya pastikan itu bukan pelanggan retribusi kami, melainkan warga yang tidak mau bayar retribusi sampah dan numpang buang lari di TPS, bukan hanya warga kota Banjar, kami pantau ada juga dari daerah Cisaga yang buang sampah ke terminal,” bebernya.

Dijabarkannya, pihaknya sudah mengangkut sampah sebanyak 4 kubik khusus untuk wilayah TPS Terminal selama cuti bersama. Pihaknya menuding warga pelaku buang lari memiliki andil sebagai kontribusi terbanyak penumpukan sampah yang terjadi.

“bahkan bisa jadi wartawan yang ada disini juga salah satunya,” tudingnya sambil menanyai satu persatu awak media yang tengah menjalankan profesinya mengklarifikasi terkait penumpukan sampah.

Selama proses klarifikasi, Ludi juga mengaku keberatan dengan munculnya pemberitaan yang menyebutkan penumpukan sampah terjadi selama cuti bersama.

“kalau mau menyalahkan cuti bersama sebagai alasan penumpukan, salahkan pemerintah pusat yang sudah menetapkan adanya cuti bersama,” pungkasnya.

(Susi)

Admin BIN