Dirut RSUD Kota Banjar Kecewa Penerapan PSBB Kota Banjar Tidak Konsisten

Dirut RSUD Kota Banjar Kecewa Penerapan PSBB Kota Banjar Tidak Konsisten

Buletin Indonesia News,

Banjar, – Viralnya pengunjung yang berdesakan sampai ke jalanan di salah satu Toserba yang ada dikota Banjar, mengundang keprihatinan banyak pihak. Terlebih, kondisi tersebut terjadi ditengah wabah pandemi Covid-19 yang memerlukan extra perlindungan diri guna mengantisipasi penyebaran virus ganas tersebut.

Mirisnya, perilaku masyarakat yang tidak mengindahkan phisycal distancing saat berbelanja terjadi pula di masa pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang saat ini masih diterapkan pemerintah kota Banjar. Tim gugus tugas sendiri tidak terlihat memberikan sanksi tegas bagi setiap pelanggar PSBB sehingga tidak ada yang membendung ketidakdisiplinan warga dalam menjalankan program yang cukup banyak menguras anggaran tersebut.

Nampak tim medis RSUD sedang memperingatkan masyarakat bahwa mereka harus berjuang memutuskan mata rantai Covid-19

Hari ini, juru bicara tim satgas Covid-19 kota Banjar merilis jumlah pasien PDP yang tengah dalam masa perawatan di RSUD kota Banjar sebanyak 10 orang dan PDP yang melaksanakan isolasi mandiri sebanyak 8 orang dengan total PDP meninggal khusus warga kota Banjar sebanyak 13 orang. Angka PDP yang masih dirawat mengalami peningkatan mengingat tgl 5 Mei lalu, pihak RSUD mengumumkan pasien PDP asal kota Banjar hanya tersisa 1 orang saja.

Sejauh ini, yang dilakukan pemerintah kota Banjar melalui gugus tugas hanya woro-woro berupa himbauan dan penempatan petugas gabungan dari tim gugus tugas yang sering kedapatan menjaga beberapa titik rawan di dalam kota tanpa upaya preventif yang konsisten. Alhasil, kepadatan pengunjung dan lahan parkir terus saja terjadi kendati walikota menegaskan bahwa pihaknya tidak akan sungkan menutup akses jalan apabila masih saja terjadi penumpukan parkir dan pengunjung toserba yang membludak ditengah wabah pandemi.

Direktur RSUD kota Banjar, Eka Lina Liandari

Hal ini mengundang kekecewaan tim medis sebagai garda terdepan dalam pandemi ini. Direktur RSUD kota Banjar, Eka Lina Liandari mengatakan bahwa pihaknya sangat menyayangkan ketidakdisiplinan warga yang rela berdesakan demi berbelanja tanpa menghiraukan keselamatan diri dari ganasnya penyebaran virus Corona sementara disisi lain tim medis berjuang dengan pertaruhan nyawa demi memutus mata rantai virus Covid-19.

“Goal nya masih belum fokus apa yang mau dicapainya dari pemberlakuan PSBB. Intinya pemahaman seperti apa agar masyarakat mau secara sadar ikut andil menjadi bagian penting dari program ini. Kalau kami di Rumah sakit hanya menunggu saja sifatnya, semua sudah kami siapkan Insya Allah terutama kelengkapan APD nakes buat perlindungan mereka dan RS Asih husada pun sekarang sudah bisa menerima pasien jadi kami sudah terbantu tapi untuk berapa lama semua ini akan berlangsung bila masyarakat maupun pemerintah tidak serius menangani pandemi ini, makin panjang waktunya makin banyak kerugian materi yang dikeluarkan dan akan berimbas kepada perekonomian masyarakatnya juga,” urai Eka.

Pihak RSUD Kota Banjar sendiri saat ini menyikapinya dengan melaksanakan tugas kuratif dalam penanganan pasien Corona melalui sikap siaga menunggu lonjakan pasien kerena keberhasilan pemberlakuan PSBB itu sendiri bisa dilihat dari data rumah sakit yang tidak lagi menerima pasien ataukah justru ada penambahan.

” Karena penanganan corona ini melibatkan unsur lain maka akan kesulitan apabila ada kelonggaran yang sifatnya tidak konsisten dalam melaksanakan aturan pemberlakuan yang menurut saya masih belum dipahami perbedaannya sebelum atau sesudah dilaksanakan PSBB. Sayang saja sih karena ga murah untuk melaksanakan program ini dan hanya terlewatkan sia-sia dengan kondisi yang terlihat sekarang tanpa ada sanksi apapun yang didapat oleh pelanggarnya jadi ya kejadiannya seperti itu dan saya yakin masyarakat sudah tidak peduli lagi mengenai upaya-upaya kami dalam mengakhiri pandemi ini.

Lama-lama mungkin kami akan seperti itu juga, tidak peduli dengan kondisi kesehatan mereka karena mereka sendiri tidak menjaga dirinya dengan baik. Jadi, butuh kesadaran individu yang paling berperan dalam menjaga diri dimasa pandemi ini dan didukung oleh aturan serta penertiban yang jelas serta tegas tanpa toleransi lagi demi menjaga satu nyawa saja agar tidak ada korban lagi,” imbuh Dirut RSUD yang masih muda dan cantik ini

Kesadaran untuk menjaga diri sendiri dan keluarga agar tidak sampai sakit saat ini yang harus dilakukan secara komprehensif mengingat sejauh ini penyebarannya semakin masif karena masyarakat mulai lalai dan tidak mengindahkan apapun maka kita harus bersiap untuk menghadapi gelombang kedua penularannya melalui cluster baru.

“Hanya tinggal berdoa semoga semua tidak terjadi , ikhtiar maksimal sudah kami lakukan sekarang tinggal hukum rimba yang berbicara yang patuh yang bertahan, yang tidak akan menerima konsekuensi terhadap kesehatannya tinggal kita jaga dan selamatkan diri serta keluarga masing2 saja,” pungkas Eka.

(Susi)

BULETIN INDONESIA NEWS

%d blogger menyukai ini: