oleh

Hukuman Bagi Para Pesantet Selama 1,5 tahun

Buletin Indonesia News.com
Jakarta,–
Berdasarkan draft RKUHP yang diserahkan Kemenkumham ke DPR, Kamis (7/7/2022), rumusan itu tertuang dalam Pasal 252 ayat 1. Yaitu:

Setiap Orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan, memberikan harapan, menawarkan, atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, atau penderitaan mental atau fisik seseorang dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak kategori IV.

Ayat 2 berbunyi:
Jika Setiap Orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan perbuatan tersebut untuk mencari keuntungan atau menjadikan sebagai mata pencaharian atau kebiasaan, pidananya dapat ditambah 1/3 (satu per tiga).

RKUHP menjelaskan bahwa ketentuan ini di maksud untuk mencegah praktik main hakim sendiri yang dilakukan oleh warga masyarakat terhadap seseorang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib dan mampu melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan penderitaan bagi orang lain.


Pengaturan ‘dukun santet’ itu juga senafas dengan pengaturan terhadap orang yang mengiklankan diri selaku pembunuh bayaran atau menjual obat penggugur kandungan.


Maka dari itu KUHP yang berlaku saat ini di Indonesia adalah Wetboek van Stafrecht, umum dikenal sebagai KUH Pidana atau KUHP) adalah peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum pidana di Indonesia. Dengan menyimpang seperlunya dari Peraturan Presiden Republik Indonesia tertanggal 10 Oktober 1945 No. 2, menetapkan, bahwa peraturan-peraturan hukum pidana yang sekarang berlaku, ialah peraturan-peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 1942.