oleh

Jangan Sembarang Taruh Uang, Inflasi dan Suku Bunga Naik!

Buletin Indonesia News.com

JAKARTA,- Hingga kini, investor memiliki banyak pilihan untuk menabung dengan jangka waktu pendek. Hanya saja pilihan itu menjadi semakin rumit di tengah inflasi yang tinggi dan kenaikan suku bunga.

Meskipun ada tanda-tanda pelambatan inflasi, namun Federal Reserve atau The Fed memperkirakan suku bunga tinggi akan tetap berlanjut.

“Tampaknya tahun ini akan sedikit rumit,” ucap Ken Tumin selaku pendiri dan editor DepositAccounts.com, dilansir dari CNBC, Kamis (5/1/2023).

Diketahui, suku bunga dana federal the Fed sudah mencapai level tertinggi dalam 15 tahun, namun suku bunga ekening tabungan belum menyamakan kenaikan ini.

Tumin menyarankan untuk menyimpan uang di bank yang sudah mapan, dia juga berkata tidak menyarankan menabung di perusahaan teknologi yang memberi layanan keuangan.

“Anda harus langsung ke bank yang diasuransikan FDIC (Lembaga Penjamin Simpanan), bukan melalui fintech,” ucap Tumin.

Selain menabung jangka pendek, pilihan lain yang disarankan adalah sertifikat deposito atau CD.

“Ini adalah lingkungan yang aneh di mana kami sebenarnya bisa mendapatkan tingkat yang lebih tinggi untuk CD jangka pendek daripada CD jangka panjang,” ujarnya.

Dibalik harapannya bunga rekening tabungan naik, tarif ini terbilang tidak cocok dengan CD satu tahun yang lebih dekat mengikuti Fed dan menawarkan rata-rata 4,81 persen pada 4 Januari 2023.

Saat inflasi meningkat, obligasi Seri 1, aset yang dilindungi inflasi dan hampir bebas risiko juga menjadi pilihan popular untuk tabungan jangka pendek.

Diketahui obligasi I saat ini membayar bunga tahunan 6,89 persen untuk pembelian baru sampai April, turun dari tarif tahunan 9,62 persen yang ditawarkan dari Mei hingga Oktober 2022.

“Ini menjadi sangat populer di kalangan klien kami karena tarifnya meroket,” kata perencana keuangan bersertifikat Eric Roberge, pendiri Beyond Your Hammock di Boston.