Kapolres Majalengka Gelar Konferensi Pers, Kecelakaan Maut Tol Cipali KM 151

Buletin Indonesia News,

Majalengka — Sat Reskrim Polres Majalengka menggelar Konferensi Pers tentang kejadian Laka lantas menonjol di ruas Tol Cipali KM 151 Wilayah Kabupaten Majalengka menyebabkan 12 orang meninggal dunia dan 32 orang luka luka, Jumat (21/6/2019).

Kepada awak media, Kapolres Majalengka AKBP Mariyono, SIK.,M.Si didampingi KBO Reskrim IPDA Jaenal, Kanit Pidum Heru S. Bahri dan Kasat lantas AKP Atik Suswanti
membeberkan hasil diagnosa psikologi Amsor, tersangka penyerangan sopir Bus Safari di tol Cipali Km 151 beberapa hari lalu.

Konferensi Pers Kapolres Majalengka AKBP Mariyono, kecelakaan di tol Cipali Km 151 yang mengakibatkan 12 meninggal dan 32 luka-luka

Selanjutnya disampaikan Kapolres dari hasil diagnosa tim Psikologi Polda Jabar dan Mabes Polri, tersangka Amsor memiliki Paranoid dan ketegangan kecemasan (tension axciety) serta adanya gangguan persepsi bahwa yang bersangkutan merasa diikuti dan diawasi oleh seseorang sehingga berhalusinasi pada dirinya. dalam kondisi psikologi seperti itu, saat kejadian, Amsor seolah-olah merasa sopir bus menerima panggilan telepon dari orang lain dan seakan-akan membicarakan rencana pembunuhan terhadap dirinya.

Akibatnya, yang bersangkutan secara tiba-tiba berupaya untuk memberhentikan bus dengan cara melompat dan menduduki posisi sopir serta berusaha mengerem bus agar berhenti. Namun, akibtanya malah menjadi fatal. Bus tidak terkendali dan malah menyeberang ke lajur berlawanan.

“Yang bersangkutan mengalami indikasi memiliki gangguan kejiwaan yang mengarah kepada gangguan kejiwaan Neorotik, Psikotik dan Paranoid sehingga perlu dilakukan tindak lanjut oleh saksi ahli,” ungkap AKBP Mariyono.

Lebih lanjut, setelah tersangka kesehatannya pulih, akan dilakukan pemeriksaan oleh dokter ahli jiwa. AKBP Mariyono, menjelaskan tersangka Amsor berangkat dari terminal Kampung Rambutan. Kemudian di terminal Pulo Gebang Amsor pindah tempat duduk, yang lokasinya berada di belakang sopir dan kondektur.

“Waktu duduk diantara sopir dan kondektur, tersangka mendengar sopir berbicara ‘tak pateni neng aku’ (aku bunuh kamu) dan kondektur melirik ke Amsor (padahal tidak saling mengenal),” Pungkasnya.

(Emma)

Admin BIN

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: