oleh

Melalui Sejarah Desa Kemuja Digelar Seminar dan Bedah Buku “Serambi Mekkah Untuk Peradaban Dunia”

Buletin Indonesia News.com

Sungaiiliat Bangka, — Seminar dan Bedah Buku “Kemuja” Serambi Makkah untuk Peradaban Dunia Acara dilaksanakan di Rumah Dinas Bupati Bangka, Kamis (9/11/2022).

Bupati Bangka Mulkan S.H, MH sambutannya mengatakan, sejarah itu harus ada pembuktian, sehingga bisa meyakinkan masyarakat dan semua pihak, dan bukan hanya sebuah cerita ataupun dalam bentuk-bentuk yang bisa diketahui oleh masyarakat.

“Melalui sejarah Desa Kemuja ini menjadi suatu bentuk nyata yang otentik, dan bisa dibenarkan oleh masyarakat,
dalam acara bedah buku ini menjadikan seorang penulis ataupun penerbit tidak egois, masih memberi kesempatan kepada para kepala daerah serta jajarannya, tokoh masyarakat, tokoh agama untuk melakukan koreksi apabila masih ada yang dirasa kurang berkenan,” ungkap Mulkan.

“Sehingga para penggagas mengundang kami, serta tokoh masyarakat, agama dan lainnya untuk bersama-sama memberi masukan apa yang kira-kira dan masih belum jelas tertulis dalam buku tersebut,” diakuinya.

“Selaku kepala daerah sangat mengapresiasi dan menyambut baik atas diterbitkannya buku ini, semoga bisa menjadi referensi dan bisa menambah ilmu pengetahuan kepada masyarakat di Bangka Belitung dan juga generasi muda ke depannya,” ujar Mulkan.

Direktur Madania Center Babel, Dr Rusydi Sulaiman ditempat yang sama mengatakan Buku Berjudul “Kemuja : Serambi Makkah untuk Peradaban Dunia” adalah karya ilmiah yang menguak kedalaman sejarah Desa Kemuja di masa lalu, bila dibandingkan desa-desa di sekitarnya, umumnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel),” Ucapnya.

“Desa Kemuja berawal dari beberapa kampung tua yang dilekatkan dengan beberapa bukit, aek dan juga kelekak. Secara umum sejarah Desa Kemuja diklasifikasikan menjadi tiga periode, Kemuja kuno, pertengahan dan modern,” kata Rusydi Sulaiman.

Ditambahkannya, jika masih ada yang beranggapan bahwa masyarakat Kemuja konservatif, hal itu tidak benar, karena Desa Kemuja telah melahirkan tokok-tokoh besar di berbagai bidang.

“Hal ini mengindikasikan dengan banyaknya orang-orang terdahulu yang “Naon di Makkah” setelah ibadah haji dalam jangka waktu lama untuk menuntut ilmu agama (basis keulamaan dan keilmuan), muncul istilah serambi makkah sehingga menyentuhkan nuansa tersendiri dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial budaya Islam atau akulturasi,” terangnya.

Dijelaskannya, “apa yang didapatkan ketika Tradisi Naon diajarkan kepada masyarakat melalui sentra-sentra belajar dengan metode. Berproses kemudian muncul gagasan pendirian pondok pesantren hingga kini dijuluki sebagai “Desa Santri”. Maka sejarah Desa Kemuja ditulis untuk diketahui dan menjadi pijakan sejarah tertentu bagi generasi berikutnya,” jelasnya.

Dihadiri Bupati Bangka Mulkan, SH, MH, Wakil Bupati Bangka, Syahbuddin, S.Ip, M.tr.Ip, Prof. Dr. Bustami Rahman, Guru Besar UBB, Dr. Rusdy Sulaiman, M.Ag Direktur Madaniah Center Bangka Belitung, Endang Kusniati, M.H, Ketua MUI Bangka, Drs H. Syaiful Zuhri, BAZNAS Kabupaten Bangka, Kepala OPD Pemkab Bangka, Para Camat, Kepala Desa.

(WAWAN)