oleh

Mengantisipasi Pemahaman Radikalisme di Kalangan Anak Muda

buletinindonesianews.com

CIAMIS, Jawa Barat – Issue Radikalisme, Intoleransi dan Gerakan Ekstremis/Terorisme Jawa Barat saat ini masih memiliki tingkatan paling rawan. Pasalnya, persoalan paham serta gerakan tersebut menjadi sangat nyata sebagai sebuah ancaman bagi bangsa karena hal ini bertentangan dengan pilar kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurut Irsal muhammad (Demisioner Ketua PC PMII Ciamis), salah satu indikasi kuat mengenai adanya hal itu adalah masih massifnya bentuk pengajian yang disinyalir kuat memberikan konten dakwah atau ceramah tentang paham radikalisme. Seperti beberapa bulan terakhir telah dilakukannya penangkapan tiga  tersangka terorisme kelompok JAD di Bekasi, ditemukannya bahan baku peledak sebanyak 35 kg di Majalengka.

Pada faktanya di sosial media masih tersebar konten-konten dakwah yang menyebarkan paham radikalisme, puncak kekhawatirannya adalah disaat kondisi pandemi covid-19 dimana masyarakat tercengkram persoalan perekonomian, dan sangat rentan jika pemerintah menganggap hal demikian tidak bisa menjadi salah satu faktor penyebab ikut menggaungkan faham radikalisme dan intoleransi.

Lingkungan yang juga menjadi sasaran alterantif penyebaran gerakan Intoleransi dan Ekstremis ialah dikampus-kampus, kondisi lingkungan kampus bisa dianggap sangat memungkinkan karena kamuplase sebuah konten webinar/seminar masih sering terjadi. Sebetulnya yang harus dilakukan dalam langkah preventif mulai dari kalangan civitas akademik setiap kampus dan beberapa organisasi kemahasiswaan yang memiliki pegangan kuat terhadap keislaman dan keindonesiaan lebih dilibatkan peranannya.

Maka dari itu, upaya pencegahan atau langkah preventif perlu dilakukan oleh semua kalangan, baik itu masyarakat, mahasiswa dan semua pihak yang dapat terus menanamkan jiwa nasionalisme yang tinggi. Melalui kegiatan-kegiatan yang positif, paling tidak dengan menghadirkan agenda-agenda yang dapat meningkatkan rasa kebersamaan dimasyarakat, nantinya kesepahaman tersebut untuk membentuk masyarakat sama-sama menjaga kerukunan dan keberagaman Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi fundament sebagai warga negara. (Agus Firman*)

News Feed