Mengapa Awak Kapal Selam Nanggala-402 Tidak Keluar Dan Menyelamatkan Diri Menggunakan Peralatan Keselamatan?

Mengapa Awak Kapal Selam Nanggala-402 Tidak Keluar Dan Menyelamatkan Diri Menggunakan Peralatan Keselamatan?

Foto (istimewa) : Kapal Selam Nanggala 402 Angkatan Laut

Buletinindonedianews.com
Hilangnya Kapal Selam Nanggala-402 pada Rabu (21/4) lalu, mengundang tanya dari masyarakat dengan harapan seluruh awak kapalnya bisa selamat dari kejadian tersebut. Kejadian ini juga ditegaskan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto kepada awak media, menyebutkan bahwa kapal selam menghilang tidak lama setelah diberikan izin menyelam dan diperkirakan berada di palung dengan kedalaman 700 meter di bawah permukaan air. KRI Nanggala yang hilang membawa 53 awak kapal dengan cadangan oksigen yang hanya bisa bertahan selama 72 jam.

Salah seorang warga Ciamis, Saeful Uyun, S.Sos (42) mengatakan saat kejadian (tenggelamnya kapal Nanggala-402_red) seharusnya para awak kapal langsung bersiap-siap menyelamatkan diri sesuai dengan standar keselamatan dengan keluar kapal melewati pintu darurat, mengenakan pelampung dan tabung oksigen.
“Ketika terjadi darurat di dalam kapal, pastinya alarm kapal akan memberikan warning. Tentunya akan terjadi kepanikan dan salah satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah dengan keluar dari kapal melewati pintu darurat menggunakan pelampung dan oksigen agar sampai ke permukaan laut dengan selamat ” ujar Saeful saat berdiskusi dengan Jajaran Redaksi Buletinindonesianews.com (Senin, 26/-4/21).  

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Informasi Publik, Agus Firman Hura mengatakan, berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan bahwa pertama sekali yang harus yang harus diketahui adalah Kapal Selam Nanggala-402 tersebut sudah sesuai dengan standar keselamatan internasional. Hal ini sudah ditegaskan Letnan kolonel Laut, Ansori selaku mantan Komandan KRI Naggala-402 pada konferensi pers yang digelar Jumat (23/4/2021) lalu.

”Seluruh peralatan keselamatan disesuaikan dengan jumlah awak yang ada di dalam kapal, semisal krunya berjumlah 53, maka peralatan keselamatannya pun berjumlah 53” kata Agus mengutip pernyataan Ansori.

Melansir Scmidt Ocean Institute, tekanan hidrostatis air meningkat sebanyak 1 atm (atmosfer) setiap kedalaman 10 meter. Jika tekanan di udara adalah 1 atm, maka tekanan di kedalaman 700 meter adalah 70 atm. Sementara manusia hanya bisa bertahan pada tekanan sekitar 3 hingga 4 atm.
Berenang dalam air laut dikedalaman 700 adalah hal yang tidak mungkin bagi manusia, rasanya mungkin akan sama seperti diinjak 100 ekor gajah di kepala.

Saat air masuk ke kapal selam, kurang dari hitungan detik gendang telinga akan pecah, paru-paru akan termampatkan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa lalu pecah, selanjutnya akan diikuti oleh pembunuh darah dari organ seluruh tubuh yang ikut hancur.

Kapal selam tidak memiliki pintu emergency yang bisa dibuka dengan leluasa. Pintu kapal selam jauh lebih rumit dari yang dibayangkan karena dirancang agar tidak dimasuki air laut. Untuk penggantinya ada kompartemen penyelamat dimana bagian tersebut tidak bisa dimasuki air karena memiliki sistim isolasi walau bagian lain kapal selam telah bocor. Kemudian melansir  San fransisco Maritim national Park Association, dalam kompartemen tersebutlah awak kapal menyelamatkan diri.

Lalu jika KRI nanggala-402 hilang di kedalaman 700 meter apakah yang terjadi jika kru nekat keluar dari kapal?

Jika awak kapal membuka pintu kapal selam pada kedalaman tersebut, air akan memasuki kapal dengan sangat cepat dan membanjiri kapal dalam hitungan detik. Dalam kedalaman rendah, awak kapal mungkin masih bisa menahan tekanan air yang masuk dan mencoba berenang keluar. Namun, di kedalaman 700 meter kondisi air tidak seperti yang dirasakan di kolam renang.

Reporter : Nank Irawan

BULETIN INDONESIA NEWS