Neta S.Pane : Meski Ada 13 Jendral Bintang 3 Namun Hanya 4 Sampai 5 Bintang Tiga Yang Berpeluang Kuat Masuk Calon Bursa Kapolri

Neta S.Pane : Meski Ada 13 Jendral Bintang 3 Namun Hanya 4 Sampai 5 Bintang Tiga Yang Berpeluang Kuat Masuk Calon Bursa Kapolri

Neta S.Pane : Meski Ada 13 Jendral Bintang 3 Namun Hanya 4 Sampai 5 Bintang Tiga Yang Berpeluang Kuat Masuk Calon Bursa Kapolri.

JAKARTA, buletinindonesianews.com – Terkait bursa calon Kapolri yg saat ini makin riuh. Ketua Ind Police Watch (IPW) Neta S.Pane mengatakan, masing- masing calon yang diunggulkan pasti akan melakukan manuver dan berbagai aksi grilya dengn caranya masing masing. Mulai dari lobi2 tingkat tinggi, membuat berbagai kegiatan menyangkut kinerja unit kerjanya hingga event-event yg membuat sicalon mendapat penghargaan,(29/11/2020).

” Semua manuver itu ujung-ujungnya nya hanya pencitraan agar si calon bisa dilirik presiden Jokowi yang punya hak prerogatif memilih kapolri pengganti Idham Azis. Bagi kalangan internal polri yang paham dengan manuver dan aksi grilya tersebut, tingkah para bakal calon itu membuat kegelian sendiri di institusi kepolisian. Sebab grilya mereka tak lebih seperti orang cari muka,” kata Neta.

” Grilya itu makin ketat karena, Minggu ini akan ada pergantin kepala BNN sehingga akan ada bintang dua masuk menjadi bintang tiga, artinya persaingan dalam bursa Kapolri makin ketat. Pada dasarnya, semua bintang tiga di Polri, ada 13 orang, berpeluang menjadi Kapolri,” jelas nya.

Meski demikian IPW hanya melihat empat atau lima bintang tiga yg berpeluang kuat masuk bursa dan akan masuk penjaringan Wanjakti polri untuk menjadi calon Kapolri, yang nantinya akan dipilih dua nama untuk diserahkan kepada presiden dan presiden akan memilih satu nama. Melihat persoalan Polri makin rumit ke depan, IPW berharap Jokowi memilih figur yang punya pengalaman dan jam terbang yang mumpuni serta pernah menjadi Kapolda di Jawa sehingga instingnya dalam menjaga keamanan nasional sudah terlatih.

” Persoalan berat yang akan dihadapi Kapolri ke depan justru persoalan di internalnya dan bukan di eksternal. Persoalan kelebihan jenderal, Kombes dan AKBP di Polri adalah persoalan pelik yang jika tidak ditangani akan memunculkan sikut menyikut di kalangan internal. Persoalan mentalitas yg berbuntut tidak promoternya anggota Polri dalam penegakan hukum juga masalah berat yang tak mudah diatasi.

Tidak adanya evaluasi menyeluruh terhadap fasilitas dan sarana prasarana Polri juga membuat kepolisian Indonesia seperti tidak terarah, terutama dalam alutsista, IT, dan teknologi kepolisian. Begitu juga tidak adanya evaluasi terhadap Grand Desain kepolisian membuat motto Polri yang Promoter hanya menjadi sebuah kata kata kosong yang ke depan harus ditata ulang oleh Kapolri yang baru agar Polri menjadi polisi yang modern.

Yatiman || 

(Ketua Ind Police Wath IPW Neta S Pane).

Admin BIN