Peneliti Di Karangkamulyan Ciamis Belum Kantongi Rekomendasi

Buletin Indonesia News
CIAMIS,–
Rombongan peneliti dari Varman Institut yang melakukan penelitian di Karang Kamulyan 4-5 Oktober lalu ternyata belum mengantongi rekomendasi dari Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Hal ini dinyatakan Kepala Kesbangpol, Drs. H. Sukendar, M.Si saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (19 Oktober 2020).
Sukendar juga menyayangkan perilaku rombongan yang menamai dirinya sebagai Peneliti hingga di Foto di atas batu yang diklaim oleh para Budayawan Ciamis sebagai batu patilasan peribadatan jaman Kerajaan Galuh. “Harusnya pakai etika juga dong apalagi mereka itu dari kalangan Akademisi seharusnya paham.” Papar Sukendar.
Foto-foto dua orang pengunjung (Peneliti) yang beredar di Media sosial ini mengusik warga Tatar Galuh Ciamis hingga berakhir pada Laporan ke Polres Ciamis.

Sukendar menegaskan, setiap penelitian ada prosedur atau tahapan yang ditempuh yaitu dengan meminta rekomendasi. Sehingga berdasarkan itu, Kesbangpol nanti akan memberikan arahan penelitian tersebut berhubungan dengan leading sektor mana. “Ketika ini tujuannya untuk sejarah atau kebudayaan tentunya diarahkan ke Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olah Raga (Disbudpora) atau Dinas Pariwisata, sehingga bisa mendapat referensi yang jelas dan tidak salah melibatkan Narasumber ataupun guide” paparnya.

Lebih jauh, Sukendar menegaskan selama Pandemi Covid-19 ini ada protokol kesehatan  yang harus ditempuh oleh para Peneliti terutama yang datang dari luar kota, yaitu harus menunjukkan hasil Swab PCR/ Rapid Test bebas Covid -19. “Hal ini demi mencegah penyebaran Covid-19 di Wilayah Ciamis.  Papar Sukendar.

Dia berharap, kejadian di Karangkamulyan menjadi pembelajaran bagi semua pihak terutama yang melakukan penelitian. “Semoga persoalan ini cepat selesai dan suasana perasaan warga Ciamis terutama para Budayawan kembali Kondusip” ungkapnya.

Sementara itu, Dr. Chye Retty Isnendes mengakui dirinya di foto di atas batu yang diklaim sebagai Petilasan Peribadatan pada jaman Kerajaan Galuh bukanlah karena kesengajaan tetapi karena arahan seseorang asal Banjar. Batu itu disebut batu panaekan dan memiliki makna bisa mengantarkan seseorang pada keutamaan, sehingga secara spontanitas naik di atas batu tersebut dan ada yang memfoto.
Hal ini, berdasarkan Surat Klarifikasi mereka sekaligus ucapan perminta maaf.

Tonton pernyataan Kepala Kesbangpol Ciamis :

Drs. H. Sukendar., M.Si (Kepala Kesbangpol Ciamis)

Laporan : Agus Firman**

Admin BIN