oleh

Perppu Ciptaker Larang Perusahaan Pecat Karyawan dengan 10 Kategori Berikut

Buletin Indonesia News.com

JAKARTA,- Seringkali kita merasa ketakutan saat melakukan kesalahan di kantor hanya karena tidak masuk kerja akibat terlalu lama sakit atau kesalahan kecil lainnya. Namun jangan khawatir, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja mengatur perusahaan dalam mengambil kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK). Salah satunya adalah karyawan yang menjalin hubungan pernikahan dalam satu perusahaan dilarang untuk di PHK.

“Pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja kepada pekerja/buruh dengan alasan; mempunyai pertalian darah dan/atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu perusahaan,” tulis Pasal 153 ayat (1) huruf f.

Selain itu, ada beberapa kriteria lainnya yang tidak memperkenankan perusahaan dalam melakukan PHK yang tercatat dalam pasal 153 ayat (1) seperti:

a. Berhalangan masuk kerja karena sakit menurut keterangan dokter selama waktu tidak melampaui 12 (dua belas) bulan secara terus menerus

b. Berhalangan menjalankan pekerjaannya karena memenuhi kewajiban terhadap negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

c. Menjalankan ibadah yang diperintahkan agamanya

d. Menikah

e. Hamil, melahirkan, gugur kandungan atau menyusui bayinya

f. Mempunyai pertalian darah dan/atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu perusahaan

g. Mendirikan, menjadi anggota dan/atau pengurus serikat kerja/serikat buruh, pekerja/buruh melakukan kegiatan serikat pekerja/serikat buruh di luar jam kerja, atau di dalam jam kerja atas kesepakatan pengusaha, atau berdasarkan ketentuan yang diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama

h. Mengadukan pengusaha kepada pihak yang berwajib mengenai perbuatan pengusaha yang melakukan tindak pidana kejahatan

i. Berbeda paham, agama, aliran politik, suku, warna kulit, golongan, jenis kelamin, kondisi fisik, atau status perkawinan dan

j. Dalam keadaan cacat tetap, sakit akibat kecelakaan kerja, atau sakit karena hubungan kerja yang menurut surat keterangan dokter yang jangka waktu penyembuhan belum dapat dipastikan.