Polisi Tidak Temukan Unsur Pidana Terkait Sikap Peneliti Di Situs Karang Kamulyan

Polisi Tidak Temukan Unsur Pidana Terkait Sikap Peneliti Di Situs Karang Kamulyan

Keterangan : Foto Peneliti Saat Menginjak Batu Petilasan di Situs Karang Kamulyan Yang Membuat Ciamis Kembali Terusik

Buletinindonesianews.com
Ciamis, JABAR —
Upaya Seniman Ciamis, Godi Suwarna mempertanyakan sikap pengunjung yang mengaku sebagai peneliti di Situs Karang Kamulyan sempat menimbulkan beberapa asumsi negatif karena ke dua Peneliti yang sudah dilaporkan ke Mapolres Ciamis sampai saat ini belum menemui titik terang.
Ditemui belum lama ini, Godi Suwarna mengaku tidak adanya titik terang permasalahan ini mejadi beban moral terhadap dirinya karena banyak rekan sejawat Budayawan dan Seniman terutama dari luar daerah mempertanyakan akhir dari perilaku ke dua oknum Peneliti ini di ranah hukum.
Karena beban moral tersebut, Godi pun melampiaskan curahan hatinya (Curhat_Red) di media sosial melalui akun Facebook miliknya yang kemudian diteruskan ke grup WA Dewan Kebudayaan Ciamis. Godi mengatakan, postingannya ini mendapat tanggapan dari Ketua Dewan Kebudayaan melalui grup Whatsapp Dewan Kebudayaan. Godi berasumsi bahwa tanggapan tersebut seolah-olah akan mempolisikan dirinya karena mempertanyakan tindak lanjut laporan Dewan Kebudayaan atas sikap Dua Orang Peneliti yang dinilai melecehkan situs Karang Kamulyan.

Godi mengaku dirinya hanya ingin kasus ini terus berlanjut, apapun hasilnya pasti diterima setelah ada keputusan Pengadilan. Dia tidak ingin kejadian-kejadian yang mengusik Masyarakat Tatar Galuh Ciamis terulang lagi, mulai dari pernyataan Seniman Betawi Ridwan Saidi yang mengatakan Kerajaan Galuh adalah Fiktif, namun permasalahan ini belum selesai, tiba-tiba muncul perilaku dua oknum Peneliti yang menginjak batu petilasan di Situs Karang Kamulyan sehingga masyarakat Ciamis kembali terusik.”Saya tidak ingin hal-hal seperti ini terulang” tegas Godi.

Ditemui terpisah, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis Dr Yat Rospia Brata menegaskan dirinya ingin mengajak Godi Suwarna ke Mapolres Ciamis agar bersama-sama silaturahmi untuk mendapat penjelasan secara mendetail dari pihak kepolisian. “Kenapa Saya harus mempolisikan beliau, bagi Saya baik-baik saja kok tidak ada masalah dengan beliau. Saya ajak ke Mapolres Ciamis supaya Beliau tidak hanya mendapatkan penjelasan secara sepihak, tapi juga diperjelas oleh pihak kepolisian, kan tabayun itu perlu agar tidak terjadi miss komunikasi (salah paham_red)” papar Yat kepada Wartawan.

Informasi yang dihimpun, Kepolisian Resort Ciamis belum bisa menindaklanjuti pengaduan Dewan Kebudayaan atas sikap dua Oknum Peneliti yang menginjak batu petilasan di Situs Karangkamulyan. Hal ini karena tidak memenuhi unsur pidana. Adapun Pasal 66 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya akan diberikan sanksi bagi perusak Cagar Budaya adalah pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 15 tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 500 juta dan paling banyak Rp 5 miliar. Sedangkan, kejadian di Situs Karangkamulyan tersebut tidak menimbulkan kerusakan.

Kendati demikian, pihak kepolisian memberikan kesempatan kepada Dewan Kebudayaan untuk melakukan kajian atas apa yang terjadi di Situs Karang Kamulyan ini. Laporan Pengaduan Dewan Kebudayaan beberapa waktu lalu ini pasti akan ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian apabila sudah mendapatkan hasil kajian dan ditemukan adanya unsur pidana.
Untuk diketahui, Beberapa istilah yang berhubungan dengan Cagar Budaya berdasarkan UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah :

  1. Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria
  2. Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;
  3. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun;
  4. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan,pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan
  5. Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa
  6. Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.
  7. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap.
  8. Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia.
  9. Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.
  10. Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.*(Agus Firman)

Admin BIN