oleh

Sedang Tren, Apakah Latto-latto merupakan Mainan Asli Indonesia?

Buletin Indonesia News.com

CIAMIS, Jabar – Latto-latto merupakan mainan yang sedang viral di kalangan masyarakat saat ini. Baik orang dewasa maupun anak-anak selalu memainkan permainan ini dimanapun, kapanpun bahkan di tengah malam sekalipun.

Latto-latto merupakan mainan dengan dua bola pemberat yang terikat tali dengan cincin di atasnya. Selain itu, latto-latto merupakan permainan yang sudah ada sejak 1990-an. Apakah benar latto-latto itu asli Indonesia?

Mengutip unggahan dari Instagram Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), latto-latto bukan permainan asli Indonesia. Namun, mainan yang berasal dari Bugis.

Di negara Eropa sendiri, latto-latto memiliki nama yang beragam seperti clacker balls, clackers, click-clacks, knockers, ker-bangers, dan clankers. Sementara di Amerika, latto-latto di sebut sebagai Newton’s yo-yo.

Dikutip dari laman Quartz, latto-latto berkembang pada tahun 1960an dan telah terjual jutaan di seluruh dunia. Saking populernya, sebagian besar warga di Calcinatello, provinsi kecil di Italia, selalu mengadakan kompetisi tahunan bagi penggemar latto-latto pada periode tersebut.

Namun, pada periode tersebut, sebagian besar latto-latto di buat dari bahan kaca. Sehingga, ketika dibenturkan dengan keras, bola-bolanya dapat pecah dan menyebabkan insiden cedera pada mata sejumlah anak di Amerika Serikat (AS).

Kejadian tersebut mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk menghentikan peredaran latto-latto pada 1966. Keputusan ini juga didukung oleh beberapa komunitas dan Organisasi Masyarakat untuk mencegah kebutaan (Society for the Prevention of Blindness).

Pada tahun 1990-an, akhirnya latto-latto dibuat dari bahan plastik dan kembali populer dengan resiko yang ditimbulkan tidak sebesar yang berbahan dasar kaca.

Dosen Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari mengungkapkan, tren latto-latto ternyata berkaitan dengan peran manusia sebagai makhluk yang suka bermain atau homo ludens. Jadi, tren permainan anak-anak atau orang dewasa selalu mengikuti perkembangan ekonomi dan zaman. Kondisi ini dipengaruhi oleh kesukaan bermain homo ludens.

Ikhsan mengatakan, latto-latto ngetren kembali karena adanya produsen media permainan anak. Selain itu, teknologi juga mempengaruhi popularitas latto-latto.