oleh

Tolak Turis Cina Masuk, Maroko Jadi Negara Pertama yang Terapkan Kebijakan Tersebut

Buletin Indonesia News.com

JAKARTA,- Otoritas China menyebutkan bahwa mereka telah menyabut kebijakan karantina untuk masyarakatnya yang datang dari luar negeri. Untuk yang akan melakukan perjalanan masuk dan keluar per tanggal 8 Januari, warga dan juga para turis hanya perlu menunjukan tes PCR negatif.

Salah satu alasan dilonggarkannya aturan tersebut adalah untuk membangkitkan kembali ekonomi dan juga menyambut Tahun Baru Imlek. Hanya saja, setelah pembatasan tersebut di cabut, penyebaran Covid di negara China tidak terkendali dan langsung melonjak tinggi.

Atas dasar itu, Maroko dengan tegas menolak penerbangan yang datang dari China. Mereka khawatir akan penyebaran virus Corona yang nantinya kembali menyebar di negaranya.

Dilansir dari Reuters, Selasa (3/1/2023), Kementrian Luar Negeri Maroko mengatakan, mulai tanggal 3 Januari 2023 negaranya memberlakukan larangan masuk untuk siapapun yang datang dari China. Itu semua dilakukan demi mencegah gelombang virus Corona.

Kebijakan tersebut menjadikan Maroko sebagai negara pertama yang menutup pintu untuk seluruh warga China.

Sebelumnya, banyak sekali turis China yang mengunjungi Maroko setiap tahunnya dan melakukan perjalanan juga penerbangan yang datang lewat Teluk. Bahkan Maroko termasuk negara yang pariwisatanya didominasi oleh turis China.

Beberapa negara juga memperketat prosedur masuk untuk turis China, seperti meminta tes pra-kedatangan untuk penerbangan dari China. Negara Amerika Serikat (AS), Korea Selatan, Israel, India, Italia, Jepang, Malaysia, Taiwan, Inggris, Prancis, dan Spanyol juga meminta hasil tes negatif dari turis China.

Akibat pembatasan yang dilakukan olah beberapa negara, juru bicara Kementrian Luar Negeri China Wang Wenbin angkat suara dan mendesak negara-negara di dunia tidak membatasi turis dari negaranya.

“China selalu meyakini bahwa tindakan pencegahan pandemi dari semua negara harus ilmiah dan sesuai, juga tidak boleh mempengaruhi perjalanan dan kerja sama,” ucap Wang.

“Kami juga mencatat baru-baru ini pakar kesehatan dari sejumlah negara percaya bahwa dari sudut pandang ilmiah, tidak perlu memberlakukan pembatasan masuk keada turis China,” imbuhnya.