Total 14 Pemudik GBP Reaktif Rapid Test, 18 PDP Meninggal di Kota Banjar

Total 14 Pemudik GBP Reaktif Rapid Test, 18 PDP Meninggal di Kota Banjar

Buletin Indonesia News,

Banjar, — Tim gugus tugas kota Banjar melalui juru bicaranya, H Tommy Subagja merilis data PDP meninggal hari ini. Pasien L (19) berjenis kelamin perempuan asal Binangun ini menjadi pasien ke 18 yang meninggal dengan status PDP asal Kota Banjar.

Terlihat pengendara sepedah motor tidak memakai masker dan tidak ada teguran penjagaan PSBB

“Total PDP meninggal 42 orang, warga Banjar 18 orang dan sisanya warga luar Kota Banjar,” terangnya.

Sejak PSBB jilid dua diterapkan di Kota Banjar, terjadi lonjakan pasien di RSUD Kota Banjar. Selain PDP, lonjakan tersebut berasal dari pasien isolasi dampak dari pemeriksaan Rapid tes yang didominasi karyawan swalayan dan minimarket.

Total di Kota Banjar sendiri terdapat 36 orang yang terdeteksi reaktif rapid diagnosis tes. Data terakhir dari Gelora Banjar Patroman sebagai pusat karantina orang dengan resiko (ODR) terdapat 14 penghuni karantina yang reaktif Rapid tes dan sudah dirujuk ke RS Asih Husada Langensari.

“Dari total 365 pemudik yang teregistrasi di GBP, baru 356 yang menjalani hasil Rapid tes dan 14 orang reaktif dan sudah di isolasi di RS Asih Husada. Sebanyak 322 menjalani karantina lingkungan dan 22 orang menjalani karantina GBP. Sisanya untuk 6 orang pemudik kembali ke kota masing-masing dan 2 orang selesai menjalankan karantina,” urai Kadispora, Nana Suryana selaku kepala penanggungjawab karantina GBP.

“Pemudik yang dikarantina lingkungan asal kelurahan Purwaharja sebanyak 9 orang tidak menjalani Rapid tes dan laporannya besok mereka sudah kembali ke kota. Atas kejadian tersebut, diluar tanggung jawab GBP dan akan diserahkan kepada lurah terkait,” tegas Nana.

Daftar panjang lonjakan PDP dan reaktif tes menjadi bahan evaluasi bagi gugus tugas Kota Banjar dalam menjalankan PSBB kedua. Diperlukan pengetatan penyekatan kendaraan di tiap posko perbatasan yang selama ini dinilai masih kendor. Disamping itu, penegakan aturan dengan mengeluarkan sanksi perlu juga menjadi bahan pertimbangan tim gugus tugas mengingat masih banyak masyarakat yang belum mematuhi PSBB dengan beraktivitas tanpa masker dan menerapkan phisycal distancing.

Kelihatan pengendara motor di perbatasan Ampel Koneng longgar tanpa memakai masker luput dari mengamanan di pos perbatasan

Pemerintah Kota Banjar belum serius menangani pandemi ini. PSBB sampai diperpanjang untuk apa kalau ternyata tidak ada ketegasan dalam menerapkan aturan dan sanksinya. Masyarakat akan patuh bila aturan dan sanksinya tegas.

“Dari pantauan di perbatasan terlalu longgar penyekatan kendaraannya, tidak seperti daerah lainnya yang ketat menjaring pelintas yang masuk dan mendatanya. Selain itu warga berkeliaran tanpa menggunakan masker dibiarkan tanpa tindakan preventif,” protes Rossy, warga kelurahan Purwaharja.

Hasil dari pantauan Buletin Indonesia News dilapangan, beberapa posko menerapkan 2 sampai 3 kali penyekatan kendaraan setiap harinya. Hal tersebut dikarenakan minimnya personil dilapangan dan kurangnya arahan dari gugus tugas dalam melaksanakan pengetatan penyekatan kendaraan di perbatasan secara konsisten selama PSBB.

“Sebetulnya pada praktiknya, secara situasional kami melakukan penyekatan minimal 2 sampai 3 kali sehari. Namun tergantung situasinya, apabila terjadi lonjakan arus mudik, tentu kami akan lebih perketat lagi,” terang Yusep, petugas Dishub Kota Banjar yang sedang berjaga di posko perbatasan Cijolang.

(Susi)

BULETIN INDONESIA NEWS

%d blogger menyukai ini: