oleh

Pagar Gedung Dewan Ciamis Roboh Diseruduk Pengunjukrasa

Buletin Indonesia News.com

Ciamis, Jabar, — Unjuk rasa Gerakan Rakyat Peduli Rakyat (GRPR) yang terdiri dari para santri, mahasiswa, anak sekolah, dan juga LSM datang memenuhi area di depan Gedung DPRD Ciamis, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kamis (15/9/2022) pukul 09.00 WIB. Menuntut agar pemerintah menurunkan harga BBM.

Salah satu perwakilan santri mengatakan, bahwa santri akan selalu bersama Indonesia, dan menegaskan bahwa mereka tidak setuju, jika para pejabat terus membuat rakyat kesusahan.

“Kami para santri dan para ulama akan selalu setia kepada Indonesia, kami para santri akan selalu bersama Indonesia, kami para santri tidak ridho pejabat terus menekan kepada rakyat, para rakyat selalu ditindas,” katanya.

Dia menegaskan, bahwa tujuan unjuk rasa yang dilakukan adalah meminta sebuah keadilan untuk rakyat atas kenaikan harga BBM.

“kita datang kesini tidak minta apa-apa, kita datang kesini hanya minta keadilan. Ingat suadara, hancurnya agama, hancurnya bangsa, hancurnya negara. Ketika pemerintahan ini, bangsa ini, dipimpin oleh pemerintahan yang zalim. Baru saja kemarin kita habis dilanda oleh virus corona, dan ekonomi kita terdesak, sekarang malah ditambah dengan dinaikan harga BBM. Ingat pemerintah, lihat ke rakyat, jangan bahagia diatas penderitaan rakyat, apa itu yang dinamakan pemerintah? Itu bukan pemerintah,” dalam orasinya.

Dia menyampaikan, bahwa sebagai penerus bangsa harus mendengarkan aspirasi rakyat, dan jika tidak bisa menjadi seorang pemimpin, maka lebih baik tidak menjadi seorang pemimpin atau tidak usah menyalonkan menjadi pemimpin

“kita sebagai para penerus pemimpin, kita buktikan bahwa santri layak menjadi pemimpin, bukan tukang kayu. Kalau kalian tidak bisa memimpin, jangan menjadi pemimpin. Kita sebagai generasi penerus, ditangan para pemuda, ditangan para santri, ditangan kita semua yang ada disini ada bangsa, ada agama, dan juga saudara. Kita sebagai generasi muda yang maju, pasti bangsa, agama, dan negara juga akan lebih maju, kalau para pemudanya hancur, para santrinya hancur, kita sebagai generasi muda hancur, maka bangsa, agama, dan negara akan ikut hancur,” ungkapnya.

Dia juga memberikan sebuah pesan kepada generasi penerus, yaitu harus menjadi pemimpin yang berbeda di masa yang akan datang, dan tidak mencontoh pemimpin di jaman sekarang. Dia menyayangkan kebijakan yang dibuat pemerintah, dengan manaikan harga BBM.

“Mulai dari sekarang mari kita serius, benar-benar. Kita sebagai generasi muda harus bisa menjadi pemimpin yang bukan seperti pemimpin jaman sekarang. Hanya cuma bisa menderitakan rakyat saja, maka kita meminta kepada pemerintah agar harga BBM diturunkan, apa kalian tidak melihat kepada yang dibawah? sekarang disini kami bersatu, dari mahasiswa, santri, anak sekolah, LSM. Saya disini atas nama suara aspirasi masyarakat, tadi kata anak santri bahwasannya, negara Indonesia sudah dua tahun dilanda oleh bencana virus corona, dilanda krisis ekonomi. Kemarin kita mendengarkan pemerintah menaikan harga BBM, itu adalah pengumuman yang sangat menyakitkan, para pemerintah banyak yang naik gajinya, kami rakyat mendengarkan kenaikan, tapi sayang yang kita dengar kenaikan harga bbm, itu menyakitkan,”ujarnya.

Salah satu ustad naik ke atas truk yang digunakan untuk unjuk rasa dan mengatakan, bahwa selalu ada caleg yang datang ke rumahnya meminta dukungan. Namun, ketika harga BBM naik mereka diam saja, dan menyayangkan hal tersebut.

“katanya kalian DPR, tapi menurut saya bukan. Menurut saya kalian bukan Dewan Perwakilan Rakyat, tapi Dewan Perwakilan Rezim. Buktinya kalian diam semua DPR ketika harga BBM naik, kalian meminta dukungan kepada saya dan masyarakat, mengetuk pintu rumah saya ketika saya sedang enak tidur, sekarang BBM naik kalian diam terus. Bangun kalian semua DPR, saya percaya disini polisi, ustad, kyai hati nya menangis-nangis karena BBM naik. Kalian mau jadi Dewan Pengkhianat Rakyat atau Dewan Perwakilan Rezim? Saya tidak enak tidur, yang biasanya tidur setiap hari nyenyak, sekarang tidak nyenyak,” kata ustad tersebut dalam pidatonya.