oleh

Usai Dirawat, Kejagung Kembali Periksa Surya Darmadi Tersangka Korupsi Rp78 Triliun

Buletin Indonesia News.com

JAKARTA, — Kejaksaan Agung kembali memeriksa tersangka kasus dugaan korupsi penyerobotan lahan sawit di Riau yang merugikan negara hingga Rp78 triliun, Surya Darmadi, pada Selasa (23/8/2022).

Pemeriksaan ini dilakukan setelah Surya Darmadi sempat dirawat di Intensive Unit Care (ICU) karena penyakit jantung.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Ketut Sumedana mengatakan, pemeriksaan dijadwalkan pagi hari ini.

“Pemeriksaan SD (Surya Darmadi). Rencananya hari ini jam 10,” ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Ketut Sumedana saat dikonfirmasi.

Pemilik PT Duta Palma Group tersebut akan menjalani pemeriksaan ketiga oleh tim penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (JAM-PIDSUS).

Adapun Surya sudah dua kali batal diperiksa penyidik Kejagung. Pada 16 Agustus 2022 Surya diperiksa untuk pertama kali sebagai tersangka, tetapi batal karena sakit. Pada 18 Agustus 2022, Surya kembali dijadwalkan diperiksa. Ia hadir ke lokasi pemeriksaan. Namun,setelah 3 jam pemeriksaan, Surya mengeluh sakit di bagian dada.

Kemudian, Surya dibawa ke Rumah Sakit Umum Adhyaksa, Ceger, Jakarta, untuk dirawat intensif di ruang intensive care unit (ICU).

Diketahui, Kejagung sebelumnya menerapkan pembantaran atau penangguhan masa penahanan Surya Darmadi ketika yang bersangkutan menjalani perawatan di RS Adhyaksa.

Direktur Penyidikan JAM-PIDSUS Supardi mengatakan pembantaran Surya Darmadi terhitung sejak Kamis (18/8) malam, sampai kondisinya kembali pulih dan bisa memberikan keterangan kepada penyidik.

Selama dibantarkan, kata Supardi, status penahanannya ditangguhkan. Dengan begitu, masa penahanan terhadapnya tidak dihitung.

“Pembantaran mulai hari ini, dibantar itu masa tahanan tidak dihitung, tetapi tetap dalam posisi pengawasan kita, sampai kondisinya sudah bisa balik,” ucap Supardi.

Dalam kasus ini, Surya Darmadi telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penyalahgunaan izin lokasi dan izin usaha perkebunan di Kawasan Indragiri Hulu.

Kasus korupsi ini disebut terbesar di Indonesia karena ditaksir merugikan keuangan negara hingga Rp78 triliun. Surya diduga melakukan tindak pidana tersebut bersama-sama dengan Bupati Indragiri Hulu periode 1999-2008 Raja Thamsir Rachman.