oleh

Demam Berdarah Di Ciamis Sudah Mencapai 227 Kasus. Ada Program Tanpa Action?

Buletin Indonesia News.com


CIAMIS, Jabar — Kasus Demam Berdarah di Kabupaten Ciamis terus mengalami lonjakan hingga 2 ratus lebih. Ancaman penyakit ini disinyalir adanya program yang tidak berjalan secara maksimal karena tidak disertai Action yang melibatkan sejumlah SKPD terkait hingga Kader.
Saat dikonfirmasi, dr. Harun selaku Kabid. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis mengatakan bahwa per tanggal 8 November 2021, kasus DBD sebanyak 227 kasus dan satu diantaranya meninggal dunia.


Harun menjelaskan data statistik kasus DBD dinas kesehatan terhitung sejak awal tahun 2021 adalah Januari : 11 kasus, Pebruari : 5 kasus, Maret : 6 kasus, April : 7 kasus, Mei : 23 + meninggal 1 = 24 kasus, Juni : 29 kasus, Juli : 18 kasus, Agustus : 14 kasus, September : 39 kasus, Oktober : 51 kasus, November : 23.
Dari jumlah kasus tersebut, penderita DBD berjenis kelamin pria sebanyak 115 orang dan perempuan 112 orang. “Berdasarkan gol umur : < 1tahun : 4 kasus ; 1 – 4 tahun : 15 kasus ; 5 – 14 tahun : 48 kasus ; 15 – 44 tahun : 106 kasus ; dan > 44 tahun : 54 kasus.

Sementara itu, upaya pencegahan melalui program Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J), dr. Harun tidak menjelaskan lebih detail seperti apa capaiannya.

“G1R1J kita aktifkan melalui Puskesmas berkoordinasi dengan Desa masing-masing, G1R1J merupakan UKBM.” singkat Harun.

Akademisi Universitas Galuh Ciamis, H. Aan Anwar Sihabudin S.IP., M.Si menyoroti ancaman penyakit Demam Berdarah (DBD) yang kasusnya terus mengalami peningkatan di Kabupten Ciamis, Jawa Barat. Aan menilai, ada program pencegahan yang direalisasikan tapi tanpa action.
Aan yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ini mengatakan bahwa pada tahun 2020 lalu Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis sudah melakukan upaya pencegahan melalui program G1R1J atau Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik.

Foto H. Aan Anwar Sihabudin S.IP., M.SI (Akademisi Universitas Galuh/Dekan FISIP)

Namun, fakta di lapangan saat melakukan kajian dan penelitian di masyarakat, diperoleh informasi bahwa dalam mensukseskan G1R1J ini melibatkan para Kader dimana 1 Kader menaungi 20 Kepala Keluarga untuk mendata perkembangan kebersihan lingkungan sekitar satu atau dua minggu sekali. Tetapi, kegiatan itu tidak berjalan maksimal.

“Bisa jadi itu disebabkan karena faktor anggaran untuk membiayai para kader” ujar Aan.

Aan mendorong terbangunnya sinergitas demi suksesnya program G1R1J ini agar kasus demam berdarah bisa ditekan lebih cepat. Menurutnya, sinergitas ini harus terbangun mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Puskesmas, Kader dan Pemerintah Desa.

Baca Berita Terkait : Pasien DBD di RSUD Ciamis sudah mencapai 112, 4 masih dirawat.

“Kalau sinergitas itu terbangun dengan baik, maka program G1R1J ini akan berjalan sehingga masyarakat bisa bebas dari DBD. Kalau cuma himbauan saja tidak akan efektif, tapi pihak terkait dibawahnya harus melakukan action juga, bukan meneruskan himbauan” ungkapnya.

Lebih jauh Aan mengatakan, musim hujan jangan hanya dijadikan sebagai penyebab terjadinya kasus DBD, tetapi adanya aksi dalam gerakan satu rumah satu jumantik ini bisa menjadi solusi.

Aneng, salah satu Kader di Kelurahan Maleber, saat dihubungi Rabu (10/11/12), mengatakan dirinya dulu pernah mengikuti pelatihan G1R1J namun saat ini dirinya sudah bukan kader lagi karena memilih kesibukan lain. (**Agus Firman)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed