oleh

Hampir Semua Objek Wisata Di Ciamis Belum Bersertifikat CHSE

buletinindonesianews.com

CIAMIS, Jawa Barat — Potensi Wisata yang ada di Kabupaten Ciamis sebanyak 146, sementara yang sudah menjadi destinasi wisata hanya sekitar 40-an, hal itu diungkapkan Kabid Destinasi, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Ciamis, Dian Udeng setelah menghadiri salahsatu acara di Aula Desa Bendasari Kecamatan Sadananya, Selasa (12/10/2021).

Menurutnya, dari 40 destinasi wisata baru 6 destinasi wisata yang sudah mengantongi sertifikat Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability (CHSE).

Kabid Destinasi, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Ciamis, Dian Udeng.

Dijelaskannya Sertifikat CHSE adalah standar yang diberikan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berbasis Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan) untuk para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif yang mencakup tempat wisata, hotel, restoran, toilet umum, penjualan oleh-oleh dan lainnya.

“Di Kabupaten Ciamis baru ada enam destinasi wisata yang telah mengantongi sertifikasi CHSE diantaranya satu hotel, satu cafe, satu homstay dan tiga destinasi wisata lainnya,” katanya.

Dikatakan Udeng, Sertifikasi CHSE merupakan program Kemenparekraf yang diberikan untuk seluruh destinasi wisata, pada prinsipnya CHSE ini harus diberlakukan oleh semua objek wisata restoran cafe tempat makan dan lain sebagainya, sekarang program CHSE sudah berakhir dan akan dibuka kembali oleh Kemenparekraf.

“Jadi destinasi wisata yang telah bersertifikat CHSE aman untuk dikunjungi,” jelasnya.

Dijelaskannya, semua destinasi wisata yang belum memiliki sertifikat CHSE akan di verifikasi, dibenahi dari berbagai sisi, baik itu sisi pengelolaan, penataan dan lainnya, agar pertama objek wisata aman untuk dikunjungi, kedua bisa nyaman untuk pengunjung, ketiga pengelola bisa mendapat keuntungan dari hasil kunjungannya para wisatawan.

“Itu yang akan kita coba ke depannya semoga wisata di Kabupaten Ciamis ini bisa lebih dikenal dan dinikmati oleh pengunjung,” harapnya.

Adanya beberapa kejadian di tempat wisata terutama dari sisi keamanan yang belum terjamin, pihaknya menghimbau kepada para pengelola objek wisata atau seluruh desa yang mempunyai potensi curug, potensi air sungai dan potensi lainnya untuk menjaga ketertiban di tempat-tempat wisatanya.

Terkait wisata buatan yang tidak mendapat izin, pihaknya akan menindak tegas dengan cara menutup tempat wisata tersebut. “Tempat wisata buatan yang belum mengantongi izin, kami akan bekerjasama dengan penegak perda untuk menutupnya,” tegasnya.

Sementara Camat Sadananya, Elan Suherlan mengatakan, terkait kejadian di Curug Panganten merupakan pembelajaran untuk semua, diakuinya Curug tersebut belum memiliki legalitas formal baik dari desa maupun pemerintah.

Camat Sadananya, Elan Suherlan.

Pasca kejadian masyarakat sekitar sempat menutup tempat tersebut agar kejadian serupa tidak terulang kembali, tetapi menutup dengan memakai penghalang saja tidak cukup tentunya harus ada piket/penjaganya agar bila ada pengunjung bisa diketahui dan dinasehati. Walaupun sudah ditutup tetap saja banyak pengunjung yang datang, untuk itu warga berinisiatif menjaga motor dan barang pengunjung.

“Karena tidak adanya pengelola secara khusus, makanya warga sekitar berinisiatif untuk menjaga motor pengunjung yang diparkir, itupun waktunya terbatas selama mereka punya waktu, tarif parkirnya juga tidak di patok. Kalau tidak dijaga nanti ada apa-apa warga sendiri juga yang jelek,” jelasnya.

Untuk mengatasi masalah potensi wisata desa yang ada, pihaknya akan mengembangkan berbagai potensi tersebut dengan berpedoman pada Permendes No 7 tahun 2021, seperti terdapat dalam rangka upaya pemulihan ekonomi masyarakat desa, ada pengembangan desa wisata, untuk itu pihaknya terus mengembangkan berbagai poyensi wisata yang ada di desa-desa di Kecamatan Sadananya.

Berdasarkan Permendes tersebut, kenapa tidak kita berangan-angan bahwa desa yang punya potensi wisata bisa mengembangkan desa wisatanya. “Pertemuan ini merupakan tindak lanjut sekaligus evaluasi bahwa untuk mengembangkan desa wisata tidak semudah yang kita kira, segala sesuatunya harus dipersiapkan dari berbagai segi baik itu masalah keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan lingkungan,” jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut pihaknya juga melibatkan berbagai elemen masyarakat dan desa diantaranya, Bumdes, BPD, LMDH dan MUI, hal itu untuk bersatu padu mempersiapkan pengembangan desa wisata. (Nank Irawan**)

News Feed